Minggu, 24 Juli 2016

Gender and Communication

MAKALAH
TEORI KOMUNIKASI

GENDER AND COMMUNICATION


DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 3
Muhammad Nurwajdi Surki 1410121123
Arnisa Fitri 14101211
Muhammad Imaduddin 14101211
Andi Nur Isman 14101211
Arisandhy Ramadhan 14101211


FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS FAJAR
2016

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas “Gender and Communication”, suatu permasalahan yang selalu dialami bagi masyarakat yang hari-harinya berkomunikasi tanpa membedakan gender atau jenis kelamin satu sama lain.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman masalah teori gender dan komunikasi yang mengusung sebuah fenomena menarik seputar perbedaan pola komunikasi antara perempuan dan laki-laki yang sepertinya kita telah alami di dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kami sampaikan kepada dosen mata kuliah “Teori Komunikasi” dan rekan-rekan mahasiswa/i yang telah banyak memberikan masukan untuk makalah ini.
Demikian makalah ini saya buat semoga bermanfaat,

Makassar, 24 Juli 2016

Penyusun,


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Identitas Gender, definisi diri tentang seseorang, khususnya sebagai perempuan atau laki-laki, yang berinteraksi secara kompleks sebagai perempuan maupun laki-laki dengan berbagai karakteristik perilakunya yang dikembangkan sebagai hasil proses sosialisasinya

Identitas gender ini mulai berkembang pada saat seorang bayi berinteraksi dengan orang-orang tertentu yang berada di sekitarnya. Melalui interaksi dengan anak sejak bayi, orang tua (keluarga) akan secara nyata disadari atau tidak, memiliki harapan-harapan yang berbeda bagi anak perempuan dan laki-laki. Perkembangan identitas gender sangat erat kaitannya dengan aspek biologis, sehingga hal ini merupakan bagian yang esensial dari konsep diri individu. 

Identitas peran gender menjelaskan sejauh mana seseorang menganggap dirinya sebagai feminim dan maskulin sebagaimana ditentukan oleh peran seksualnya. Pengertian feminitas dan maskulinitas bagi setiap orang tidak akan sama

Konsep kesetaraan gender ini memang merupakan suatu konsep yang sangat rumit dan mengundang kontroversial. Apa yang dimaksud dengan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki

Kesetaraan gender dapat juga berati adanya kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan dalam memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, pertahanan dan keamanan nasional, serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan

Kesetaraan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dalam segala akses. Laki-laki dan perempuan memiliki akses berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan.

2.1 Rumusan Masalah

Bagaimana pengklasifikasian keberaturan pembicaraan perempuan dan laki-laki?
Apa yang dimaksud Genderlect Styles, Standpoint Theory dan Muted Group Theory?
3.1 Tujuan

Untuk mengetahui klasifikasi keberaturan pembicaraan perempuan dan laki-laki serta persamaan dan perbedaannya.
Untuk mengetahui lebih jelas tentang Genderlect Styles, Standpoint Theory dan Muted Group Theory.

BAB II
PEMBAHASAN
GENDER and COMMUNICATION
Robin Lakoff (dalam Griffin, 2003) mencoba mengklasifikasikan keberaturan pembicaraan perempuan, dan membedakan antara woman talk dari man talk.
Ia mengklaim bahwa percakapan perempuan mempunyai karakter sebagai berikut:
a. Ditandai apologis.
b. Pernyataan tidak langsung.
c. Pertanyaan yang minta persetujuan
d. Mengkualifikasikan.
e. Perintah yang sopan.
f. Menggunakan istilah color.
g. Cenderung menghindari bahasa vulgar.
h. Sedikit berbicara, banyak mendengarkan.
Sementara itu, penelitian Griffin (2003), yang berdasarkan pada refleksi personal, menemukan tiga pola perbedaan antara perempuan dan laki-laki sebagai berikut:
a) ada lebih banyak persamaan antara laki-laki dan perempuan dari pada perbedaannya.
b) ada variabilitas yang besar berkenaan gaya komunikasi antara laki dan perempuan. Feminis vs maskulinitas.
c) sex adalah fakta, gender sebagai gagasan.
Teori gender dan komunikasi ini mengusung sebuah fenomena menarik seputar perbedaan pola komunikasi antara perempuan dan laki-laki. Teori gender memiliki dua teori yang dapat membantu memahami lebih jauh mengenai komunikasi antar jeis kelamin yaitu: 

1. Genderlect Styles berupa teori tentang ketidakmengertian (misunderstanding) antara laki-laki dan perempuan berkenaan dengan fakta bahwa fokus pembicaraan perempuan adalah koneksitas, sementara laki-laki pada pelayanan status dan kemandiriannya. 



2. Standpoint Theory teori ini menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perspektif terpisah dan berbeda, dimana mereka (laki dan perempuan) tidak memandangnya sebagai sesuatu yang setara. Teori gender juga mengungkap diskriminasi komunikasi antar dua kelompok ini dimana kaum lelaki cenderung dianggap mempunyai kemampuan lebih. Sedangkan wanita hanya memandang dunia tanpa mampu berbuat apa-apa. 
3. Muted Group Theory berupa teori yang didasarkan pada analisis feminis. Dalam teori ini dinyatakan bahwa lelaki lebih pantas mendapat hak lebih ketimbang perempuan karena wanita kurang bisa mengartikulasikan diri/memperjuangkan diri dibanding laki-laki. Sepanjang pembicaraan perempuan sebagai tentatif dan sepele, posisi dominan laki-laki aman. Meskipun terkesan sepele, namun kebisuan perempuan saat ini mulai menipis, sehingga kontrol perempuan dalam kehidupan akan terus meningkat.
Dalam pembahasan mengenai gender dan komunikasi, Griffin menyadur tiga buah pemikiran sebagai berikut: Genderlect Styles (dari Deborah Tannen); Standpoint Theory (dari Sandra Harding dan Julia Wood); dan Muted Group Theory (dari Cheris Kramarae).
1. Genderlect Styles (dari Deborah Tannen).
Deborah Tannent mendiskripsikan ketidakmengertian (misunderstanding) antara laki-laki dan perempuan berkenaan dengan fakta bahwa fokus pembicaraan perempuan adalah koneksitas, sementara laki-laki pada pelayanan status dan kemandiriannya.
Genderlect Styles membicarakan gaya bercakap-cakap- bukan apa yang dikatakan tetapi bagaimana menyatakannya. Tanent meyakini bahwa terdapat gap antara laki-laki dan perempuan, dikarenakan masing-masing berada pada posisi lintas budaya (cross culture), untuk itu perlu mengantisipasi berkenaan dengan gap itu. Kegagalan mengamati perbedaan gaya bercakap dapat membawa masalah yang besar.
Perbedaan-perbedaan itu terletak pada:
• Kecenderungan feminis versus maskulin, hal ini harus dipandang sebagai dua dialek yang berbeda: antara superior dan inverior dalam pembicaraan. Komunitas feminis – untuk membangun relationship; menunjukkan responsif. Komunitas maskulin – menyelesaikan tugas; menyatakan diri; mendapatkan kekuasaan.
• Perempuan berhasrat pada koneksi versus laki-laki berhasrat untuk status. Koneksi berhubungan erat dengan kedekatan, status berhubungan erat dengan kekuasaan (power).
• Raport talk versus report talk. Perbedaan budaya linguistik berperan dalam menstruktur kontak verbal antara laki-laki dan perempuan. Raport talk adalah istilah yang digunakan untuk menilai obrolan perempuan yang cenderung terkesan simpatik.Report talk adalah istilah yang digunakan menilai obrolan laki-laki yang cenderung apa adanya, pokoknya sampai. Berkenaan dengan kedua nilai ini, Tanent menemukan temuan-temuan yang terkategorikan sebagai berikut:
a. Publik speaking versus private speaking, dalam kategori ini diketemukan bahwa perempuan lebih banyak bicara pada pembicaraan pribadi. Sedangkan laki-laki lebih banyak terlibat pembicaraan publik, laki-laki menggunakan pembicaraan sebagai pernyataan fungsi perintah; menyampaikan informasi; meminta persetujuan.
b. Telling story, cerita-cerita menggambarkan harapan-harapan, kebutuhan-kebutuhan, dan nilai-nilai si pencerita. Pada kategori ini laki-laki lebih banyak bercerita dibanding perempuan-khususnya tentang guyonan. Cerita guyonan merupakan suatu cara maskulin menegoisasikan status.
c. Listening, perempuan cenderung menjaga pandangan, sering manggut, berguman sebagai penanda ia mendengarkan dan menyatakan kebersamaannya. Laki-laki dalam hal mendengarkan berusaha mengaburkan kesan itu- sebagai upaya menjaga statusnya.
d. Asking questions, ketika ingin bicara untuk menyela pembicara, perempuan terlebih dahulu mengungkapkan persetujuan. Tanent menyebutnya sebagai kooperatif-sebuah tanda raport simpatik daripada kompetitif. Pada laki-laki, interupsi dipandang oleh Tanent sebagai power-kekuasaan untuk mengendalikan pembicaraan. Dengan kata lain, pertanyaan dipakai oleh perempuan untuk memantapkan hubungan, juga untuk memperhalus ketidaksetujuan dengan pembicara, sedangkan laki-laki memakai kesempatan bertanya sebagai upaya untuk menjadikan pembicara jadi lemah.
e. Conflict, perempuan memandang konflik sebagai ancaman dan perlu dihindari. Laki-laki biasanya memulai konflik namun kurang suka memeliharanya.
2. Standpoint Theory (dari Sandra Harding dan Julia Wood).
Sandra harding dan Julia Wood sepakat bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perspektif terpisah, dan mereka tidak memandangnya sebagai sesuatu yang setara. Lokasi-lokasi yang berbeda dalam hirarkhi sosial mempengaruhi apa yang dilihat. Mereka beranggapan bahwa perempuan dan minoritas yang lainnya mempersepsi dunia secara berbeda daripada kelompok yang berkuasa.
Standpoint merupakan tempat dari mana melihat pemandangan dunia, apapun sudut pandangnya. Sinonim dari istilah ini adalah perspektif; view point, out look; dan sebagainya.
Dasar filosopi teori ini adalah perjuangan klas- seperti filsafati kaum proletar karya Karl Marx dan Friederich Engels. Sandra harding dan Julia Wood menganjurkan harus ada perjuangan terhadap diskriminasi gender. Mereka tidak mencirikan perbedaan gender pada insting atau biologis atau intuisi, tetapi perbedaan itu sebagai hasil harapan-harapan budaya dan perlakuan kelompok dalam hal menerima kelompok yang lain. Budaya tidak dialami secara identik, budaya adalah aturan hirarkhi sehingga kelompok yang punya posisi cenderung menawarkan kekuasaan, kesempatan pada anggota-anggotanya. Dalam hal ini teori ini menyatakan bahwa perempuan terposisikan pada hirarkhi yang rendah dibanding posisi laki-laki.
Gender adalah sistem makna, sudut pandang melalui posisi dimana kebanyakan laki-laki dan perempuan dipisahkan secara lingkungan, material, simbolis.
3. Muted Group Theory (dari Cheris Kramarae).
Berdasarkan analisis feminis, Cheris Kramarae memandang pembicaraan laki-laki dan perempuan sebagai pertukaran yang tidak setara antara mereka yang mempunyai kekuasaan di masyarakat dan yang tidak. Ia meyakini bahwa kurang bisanya mengartikulasikan diri/memperjuangkan diri dibanding laki-laki di sector public- sebab kata dalam bahasa dan norma-norma yang mereka gunakan itu telah dikendalikan laki-laki. Sepanjang pembicaraan perempuan sebagai tentatif dan sepele, posisi dominan laki-laki aman. Kramarae yakin bahwa kebisuan perempuan itu cenderung menipis, kontrol mereka dalam kehidupan kita akan meningkat.
Cheris Kramarae (dalam Sendjaja:1994) mengemukakan asumsi-asumsi dasar dari teori ini sebagai berikut:
Perempuan menanggapi dunia secara berbeda dari laki-laki karena pengalaman dan aktivitasnya berbeda yang berakar pada pembagian kerja.
Karena dominasi politiknya, sistem persepsi laki-laki menjadi lebih dominan, menghambat ekspresi bebas bagi pemikiran alternatif perempuan.
Untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, perempuan harus mengubah perspektif mereka ke dalam sistem ekspresi yang dapat diterima laki-laki.
Kramarae mengemukakan sejumlah hipotesis mengenai komunikasi perempuan berdasarkan beberapa temuan penelitian.
a) Perempuan lebih banyak mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri dibanding laki-laki.
b) Perempuan lebih mudah memahami makna laki-laki daripada laki-laki memahami makna perempuan.
c) Perempuan telah menciptakan cara-cara ekspresinya sendiri di luar sistem laki-laki yang dominan.
d) Perempuan cenderung untuk mengekspresikan lebih banyak ketidakpuasan tentang komunikasi dibanding laki-laki.
e) Perempuan seringkali berusaha untuk mengubah aturan-aturan komunikasi yang dominan dalam rangka menghindari atau menentang aturan-aturan konvensional.
f) Secara tradisional perempuan kurang menghasilkan kata-kata baru yang populer dalam masyarakat luas; konsekuensinya, mereka merasa tidak dianggap memiliki kontribusi terhadap bahasa.
g) Perempuan memiliki konsepsi humoris yang berbeda dari pada laki-laki.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Teori gender dan komunikasi ini mengusung sebuah penomena menarik seputar perbedaan pola komunikasi antara perempuan dan laki-laki. Teori gender memiliki dua teori yang dapat membantu memahami lebih jauh mengenai komunikasi antar jeis kelamin yaitu: 
Pertama: Genderlect Styles berupa teori tentang ketidakmengertian (misunderstanding) antara laki-laki dan perempuan berkenaan dengan fakta bahwa fokus pembicaraan perempuan adalah koneksitas, sementara laki-laki pada pelayanan status dan kemandiriannya. 
Kedua: Standpoint Theory teori ini menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perspektif terpisah dan berbeda, dimana mereka (laki dan perempuan) tidak memandangnya sebagai sesuatu yang setara. Teori gender juga mengungkap diskriminasi komunikasi antar dua kelompok ini dimana kaum lelaki cenderung dianggap mempunyai kemampuan lebih. Sedangkan wanita hanya memandang dunia tanpa mampu berbuat apa-apa. 
Ketiga: Muted Group Theory berupa teori yang didasarkan pada analisis feminis. Dalam teori ini dinyatakan bahwa lelaki lebih pantas mendapat hak lebih ketimbang perempuan karena wanita kurang bisa mengartikulasikan diri/memperjuangkan diri dibanding laki-laki. Sepanjang pembicaraan perempuan sebagai tentatif dan sepele, posisi dominan laki-laki aman. Meskipun terkesan sepele, namun kebisuan perempuan saat ini mulai menipis, sehingga kontrol perempuan dalam kehidupan akan terus meningkat.


DAFTAR PUSTAKA

http://adiprakosa.blogspot.co.id/2007/12/gender-dan-komunikasi.html
http://gunnaharmyani.blogspot.co.id/2012/06/konteks-kultural-dalam-teori-komunikasi.html
https://kuliahkita185.wordpress.com/category/komunikasi-gender/
http://www.slideshare.net/nisayumna/genderlect-theory-35918058
https://www.academia.edu/20424900/Muted_Group_Theory

Selasa, 10 Mei 2016

KLASIFIKASI TEORI

  • · Grand Theory
Grand teori adalah pemaknaan perilaku dengan cara yang benar secara universal. Grand teori memikiki kemampuan untuk menyatukan semua pengetahuan yang kita miliki mengenai komunikasi menjadi sebuah kerangka teori.
Contoh: Marxism
Grand theory komunikasi sebagaian besar tidak ada yang eksis, misalnya dalam komunitas, pasti komunitas tersebut berbeda dengan komunitas lainnya.
  • A mid-range Theory
A mid-range teori menjelaskan perilaku sebuah kelompok orang dibandingkan dengan semua orang atau mencoba menjelaskan perilaku semua orang dalam sebuah waktu atau konteks tertentu.
Banyak teori komunikasi yang masuk dalam kategori ini.
– Uncartainly reduction: Bagaimana orang berhadapan dengan orang asing.
– Face negotiation theory: Bagaimana orang berbeda budaya mencoba mengelola konflik.
– Group theory: Bagaimana orang-orang dalam kelompok menyetujui sebuah keputusan.
  • · Narrow Theory
Narrow teori menitikberatkan pada orang-orang tertentu pada waktu tertentu.
Mis : aturan-aturan komunikasi dalam sebuah konflik umum.
Ada beberapa konflik misalnya dalam sebuah stand point theory harapan bahwa koreksi tentang sebab perempuan harus dimodifikasi dengan menghubungkan pada tingkatan dan ras.


KOMPONEN TEORI

  • Konsep
Adalah kata-kata, gagasan atau istilah yang melabeli elemen paling penting dalam teori.
1. Konsep nominal: adalah konsep yang tidak terlihat seperti demokrasi atau cinta.
2. Konsep real: adalah konsep yang terlihat seperti ritual atau jarak spasial.
  • Hubungan (relationship)
Adalah cara dimana sebuah konsep teori digabungkan.

KRITERIA UNTUK MENGEVALUASI TEORI
  • Scope (lingkup keluasan)
Didasari pada keluasan perilaku komunikasi yang dicakup oleh teori. Meski teori harus bisa menjelaskan komunikasi menjadi bermakna namun tetap harus ada batasan pada keluasan lingkup atau cakupannya.
  • Logical Consistency
Teori harus masuk akal dan memiliki konsistensi logic yang dan tidak bertentangan. Teori harus dapat membuat penjelasan yang baik, yang menunjukkan bahwa konsep-konsep saling bekerjasama dan hasil apa yang didapat dari interaksinya.
  • Parsimony
Apakah bisa se-simpel mungkin menjelaskan fenomena. Jika sebuah teori dapat menejelaskan perilaku komunikator hanya dengan satu konsep, tidak perlu lagi menggunakan konsep-konsep lainnya.
  • Utility
Apakah teori bisa digunakan? Teori seharusnya dapat menjelaskan elemen-elemen komuniksi yang tadinya tidak jelas.
  • Testability
Testability mengacu kepada kemampuan untuk menginvestigasi keakuratan teori.
  • Heurism
Apakah teori telah digunakan dalam penelitian secara intensif untuk menciptakan cara baru berpikir mengenai komunikasi.
  • Test of time
Sudah berapa lama sebuah teori digunakan dalam penelitian komunikasi.

KEGUNAAN TEORI  

Kerlinger (1978) mengemukakan bahwa Theory is a set of interrelated construct (concepts), definitions, and proposition that present a systematic view of phenomena by specifying relations among variableswith purpose of explaining and predicting the phenomena. Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis yang dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Setiap penelitian selalu menggunakan teori. Teori berfungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti, sebagai dasar merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Semua peneliti harus berbekal teori agar wawasannya menjadi lebih luas dan dapat menyusun instrumen penelitian yang baik.
Pentingnya teori adalah sebagai kerangka kerja penelitian. Teori sangat berguna untuk kerangka kerja penelitian, terutama untuk mencegah praktek-praktek pengumpulan data yang tidak memberikan sumbangan bagi pemahaman peristiwa. Empirisme yang polos, menurut Suppes (dalam Bell, 1986) merupakan bentuk coretan mental dan ketelanjangan tubuh yang jauh lebih menarik daripada ketelanjangan fikiran.
Menurut Suppes (dalam Bell, 1986) ada empat fungsi umum teori. Fungsi ini juga berlaku bagi teori belajar, yakni:
  1. Berguna sebagi kerangka kerja untuk melakukan penelitian.
  2. Memberikan suatu kerangka kerja bagi pengorganisasian butir-butir informasi tertentu.
  3. Identifikasi kejadian yang komplek.
  4. Reorganisasi pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Pentingnya teori adalah sebagai kerangka kerja penelitian. Teori sangat berguna untuk kerangka kerja penelitian, terutama untuk mencegah praktek-praktek pengumpulan data yang tidak memberikan sumbangan bagi pemahaman peristiwa.


TUJUAN TEORI
  • Adalah menjelaskan, memahami, memprediksi dan perubahan sosial.
  • Membantu kita menemukan jawaban pertanyaan mengapa dan bagaimana mengenai pengalaman-pengalaman komunikasi kita.
  • Suatu teori atau beberapa teori merupakan ikhtisar daripada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang dipelajari sosiologi.
  • Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada seseorang yang memperdalam pengetahuannya di bidang sosiologi.
  • Teori berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang dipelajari oleh sosiologi. Bahan Ajar Pengantar Sosiologi.
  • Suatu teori akan sangat berguna dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan definisi-definisi yang penting untuk penelitian.
  • Pengetahuan teoritis memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan proyeksi sosial, yaitu usaha untuk dapat mengetahui kearah mana masyarakat akan berkembang atas dasar fakta yang diketahui pada masa lampau dan pada dewasa ini.
Sifat dan tujuan teori menurut Abraham Kaplan (1964) adalah bukan semata untuk menemukan fakta yang tersembunyi, tetapi juga suatu cara untuk melihat fakta, mengorganisasikan serta merepresentasikan fakta tersebut. Teori yang baik adalah teori yang konseptualisasi dan penjelasannya didukung oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Apabila konsep dan penjelasan teori tidak sesuai dengan realitas, maka keberlakuannya diragukan dan teori demikian tergolong teori semu.
Menurut Littlejohn (1996) fungsi teori ada 9 (sembilan) yaitu:

1. Mengorganisasikan dan menyimpulkan
Kita tidak melihat dunia dalam kepingan-kepingan data. Sehingga dalam mengamati realitas kita tidak boleh melakukannya setengah-setengah. Kita perlu mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dapat dicari dan ditemukan. Kemudian diorganisasikan dan disimpulkan. Hasilnya berupa teori dapat dipakai sebagai rujukan atau dasar bagi upaya-upaya studi berikutnya.

2. Memfokuskan
Teori pada dasarnya hanya menjelaskan tentang suatu hal bukan banyak hal. Untuk itu aspek-aspek dari suatu objek harus jelas fokusnya.

3. Menjelaskan
Teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya. Penjelasan ini berguna untuk memahami pola-pola, hubungan-hubungan dan juga menginterpretasikan fenomena-fenomena tertentu. Atau dengan kata lain teori-teori menyediakan tonggak-tonggak penunjuk jalan untuk menafsirkan, menerangkan dan memahami kompleksitas dari hubungan-hubungan manusia.

4. Mengamati
Teori tidak hanya menjelaskan tentang apa yang sebaiknya diamati tetapi juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya. Terutama bagi teori-teori yang memberikan definisi-definisi operasional, teoretikus bersangkutan memberikan kemungkinan indikasi yang paling tepat mengenai apa yang diartikan oleh suatu konsep tertentu. Jadi dengan mengikuti petunjuk-petunjuk kita dibimbing untuk mengamati seluk beluk yang diuraikan oleh teori itu.

5. Membuat prediksi
Fungsi prediksi ini dengan berdasarkan data dan hasil pengamatan maka harus dapat dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercermin dalam kehidupan di masa sekarang.

6. Heuristik (membantu proses penemuan)
Sebuah aksioma yang terkenal adalah bahwa suatu teori yang baik melahirkan penelitian. Teori yang diciptakan harus dapat merangsang timbulnya upaya-upaya penelitian selanjutnya.

7. Mengkomunikasikan pengetahuan
Teori harus dipublikasikan, didiskusikan, dan terbuka terhadap kritikan-kritikan. Sehingga penyempurnaan teori akan dapat dilakukan.

8. Kontrol/mengawasi
Fungsi ini timbul dari persoalan-persoalan nilai, di dalam mana teoretikus berusaha untuk menilai keefektifan dan kepatutan perilaku tertentu. Teori dapat berfungsi sebagai sarana pengendali atau pengontrol tingkah laku kehidupan manusia.

9. Generatif
Fungsi ini terutama sekali menonjol dikalangan pendukung aliran interpretif dan teori kritis. Menurut mereka, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kultural, serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.

Menurut Graham C. Kinloch teori adalah suatu proposisi yang berfungsi untuk menjelaskan suatu fenomena atau gejala, apabila terdapat teori sosial maka teori tersebut akan menjelaskan gejala-gejala sosial, apabila terdapat teori hukum, maka teori hukum adalah merupakan proposisi yang menjelaskan fenomena atau gejala hukum. Penggunakan suatu teori sangat penting dalam penelitian karena teori berfungsi membantu mengkompilasi pengetahuan yang akan diteliti. Teori berfungsi sebagai guidence dalam arti panduan untuk menyeleksi informasi yang tidak diperlukan dan tidak relevan dapat dikesampingkan. Teori menjadi point of depature atau titik berangkat frame work/kerangka kerja karya ilmiah dan sekaligus mengontrol kemungkinan bias dalam melakukan pengamatan dan atau interpretasi.


Definisi Ilmu Menurut Para Ahli

Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan adalah seluruh upaya sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai aspek realitas di alam manusia. Aspek-aspek tersebut dibatasi untuk menghasilkan formula yang pasti. Ilmu memberikan kepastian untuk membatasi ruang lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu yang diperoleh dari keterbatasan.

Ilmu Menurut Para Ahli :

  • Menurut Minto Rahayu
Ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan berlaku umum, sedangkan pengetahuan adalah pengalaman yang bersifat pribadi/kelompok dan belum disusun secara sistematis karena belum dicoba dan diuji.
  • Menurut Thomas Kuhn
Ilmu adalah himpunan aktivitas yang menghasilkan banyak penemuan, baik dalam bentuk penolakan maupun pengembangannya.
  • Menurut dr. Maurice bucaille
Ilmu adalah kunci untuk mengungkapkan segala hal, baik dalam jangka waktu yang lama maupun sebentar.
  • Menurut Popper
Ilmu adalah tetap dalam keseluruhan dan hanya mungkin direorganisasi.
  • Menurut Poespoprodjo
Ilmu adalah proses perbaikan diri secara berkesinambungan yang meliputi perkembangan teori dan uji empiris.
  • Menurut M. Izuddin Taufiq
Ilmu adalah penelusuran data atau informasi melalui pengamatan, pengkajian dan eksperimen, dengan tujuan menetapkan hakikat, landasan dasar ataupun asal usulnya.
  • Menurut Charles Singer
Ilmu adalah suatu proses yang membuat pengetahuan (science is the process which makes knowledge).
  • Menurut NS. Asmadi
Ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang padat dan proses mengetahui melalui penyelidikan yang sistematis dan terkendali (metode ilmiah).
  • Menurut DR. H. M. Gade
Ilmu adalah falsafah, yaitu hasil pemikiran tentang batas-batas kemungkinan pengetahuan manusia.
  • Menurut Francis Bacon
Ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid dan hanya fakta-fakta yang dapat menjadi objek pengetahuan.

Syarat-syarat ilmu

Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa yang menyebabkan sesuatu dan mengapa. Ada sesuatu persyaratan ilmiah dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dulu.
  • Obyektif 
Adalah Ilmu harus memiliki obyek studi terdiri dari satu kelas properti dasarnya masalah yang sama, tampak dari luar serta bentuk dalam. Objek mungkin ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam meninjau objek, yang dicari adalah kebenaran, korespondensi antara pengetahuan dengan objek, yang disebut kebenaran obyektif,  subjektif tidak didasarkan pada subjek penelitian atau subjek dukungan penelitian.
  • Metodis
Adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Akibatnya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum cara metodis metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
  • Sistematis.
Dalam perjalanan mencoba untuk mengidentifikasi dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan dirumuskan dalam hubungan teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang dimaksudkan secara keseluruhan, komprehensif, terintegrasi, dan mampu menjelaskan urutan penyebab dan efek terhadap objek. Pengetahuan sistematis diatur dalam serangkaian sebab dan akibat adalah kebutuhan ilmu ketiga.
  • Universal
Kebenaran yang ingin dicapai adalah kebenaran universal yang umum (non-spesifik). Contoh: 180-an sudut semua segitiga. Oleh karena itu universal kebutuhan ilmu keempat. Kemudian ilmu-aware konten sosial untuk sang jenderal (universal) yang berisi berbeda dari ilmu-ilmu alam mengingat objek adalah tindakan manusia. Oleh karena itu, untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

Definisi Teori Menurut Para Ahli

Teori adalah sebuah sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan diantara konsep-konsep tersebut yang membantu kita memahami sebuah fenomena. Sehingga bisa dikatakan bahwa suatu teori adalah suatu kerangka kerja konseptual untuk mengatur pengetahuan dan menyediakan suatu cetak biru untuk melakukan beberapa tindakan selanjutnya.

Berikut ini adalah definisi dan pengertian teori menurut beberapa ahli:

# JONATHAN H. TURNER
Teori adalah sebuah proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi.


# LITTLEJOHN & KAREN FOSS
Teori merupaka sebuah sistem konsep yang abstrak dan hubungan-hubungan konsep tersebut yang membantu kita untuk memahami sebuah fenomena.


# KERLINGER
Teori adalah konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya yang mengandung suatu pandangan sistematis dari suatu fenomena.


# NAZIR
Teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau kejadian.


# STEVENS
Teori adalah suatu pernyataan yang isinya menyebabkan atau mengkarakteristikkan beberapa fenomena.


# FAWCETT
Teori adalah suatu deskripsi fenomena tertentu, suatu penjelasan tentang hubungan antar fenomena atau ramalan tentang sebab akibat satu fenomena pada fenomena yang lain.


# TRAVERS
A theory consist of generalizations intended to explain phenomena and that the generalizations must be predictive. Teori terdiri dar generalisasi yang dimaksudkan untuk menjelaskan dan memprediksi sebuah fenomena.


# EMORY - COOPER
Teori merupakan suatu kumpulan konsep, definisi, proposisi, dan variable yang berkaitan satu sama lain secara sistematis dan telah digeneralisasikan , sehingga dapat menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena (fakta-fakta) tertentu.


# CALVIN S. HALL & GARDNER LINZEY
Teori adalah hipotesis (dugaan sementara) yang belum terbukti atau spekulasi tentang kenyataan yang belum diketahui secara pasti.


# KING
Teori adalah sekumpulan konsep yang ketika dijelaskan memiliki hubungan dan dapat diamati dalam dunia nyata.


# MANNING
Teori adalah seperangkat asumsi dan kesimpulan logis yang mengaitkan seperangkat variabel satu sama lain. Teori akan menghasilkan ramalan-ramalan yang dapat dibandingkan dengan pola-pola yang diamati.

Kamis, 21 April 2016

MAKALAH MODEL KOMUNIKASI SCHRAMM



BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Model adalah representasi suatu fenomena, baik nyata maupun abstrak, dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena tersebut. Model jelas bukan fenomena itu sendiri. Akan tetapi, peminat komunikasi, termasuk mahasiswa, sering mencampuradukkan model komunikasi dengan fenomena komunikasi.

Hanya saja model tersebut sekaligus mereduksi fenomena komunikasi artinya ada nuansa komunikasi lainnya yang mungkin terabaikan dan tidak terjelaskan oleh model tersebut.

Sehubungan dengan beberapa hal diatas, penulis mengangkat judul “Model-model Komunikasi”. Hal ini dimaksudkan agar pembaca mengetahui model-model komunikasi.

BAB II
PEMBAHASAN


Model komunikasi adalah representasi fenomena komunikasi dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting guna memahami suatu proses komunikasi.

Menurut Sereno dan Mortensen, suatu model komunikasi adalah deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Sedangkan B. Aubrey Fisher mengatakan, model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model.

Sebagian ahli memaknai model sebagai penyederhanaan teori yang disajikan dalam bentuk gambar. Karena itu, hakikatnya model adalah alat bantu. Sebagai alat bantu, model mempermudah penjelasan fenomena komunikasi dengan mempresentasikan secara abstrak ciri-ciri yang dianggap penting dan menghilangkan rincian yang tidak perlu.

Karena hubungan antara model dengan teori begitu erat, model sering dicampuradukkan dengan teori. Kita dapat menggunakan kata-kata, angka, simbol, dan gambar untuk melukiskan model suatu objek, teori atau proses.

Dilihat dari bentuknya, model komunikasi dasar yang akan kita bahas adalah :
  • Model komunikasi Wilburn Schramm

Schramm’s Interactive Model, 1954



Wilbur Schramm (1954) merupakan orang pertama yang mengubah model Shannon and Weaver. Ia memiliki konsep decoding dan encoding sebagai aktivitas yang dilakukan secara simultan oleh pengirim dan penerima, Wilbur juga membuat ketentuan-ketentuan untuk pertukaran dua arah pesan.
  • Schramm memberikan gagasan tambahan “field of experience”, atau kerangka acuan psikologis, hal ini merujuk pada jenis orientasi atau sikap dari interactants (orang yang berinteraksi) mempertahankan terhadap satu sama lain.
  • Termasuk Feedback :

Komunikasi timbal balik, dua arah, meskipun umpan balik mungkin tertunda :
  1. Beberapa metode-metode komunikasi yang sangat langsung, seperti ketika Anda berbicara dan direspon langsung oleh seseorang.
  2. Bentuk lain yang cukup langsung seperti menggeliat ketika pembicara terus menerus bericara, mengerutkan hidung dan menggaruk kepala bila pesan terlalu abstrak atau mengubah posisi tubuh anda ketika anda berpikir bahwa sudah giliran anda berbicara.
  3. Masih jenis lain umpan balik yang  sama sekali tidak langsung.
Dalam model catatan Schramm, seperti yang dilakukan Aristoteles, komunikasi yang selalu membutuhkan tiga elemen - sumber, pesan dan tujuan. Idealnya, sumber encode pesan dan mengirimkannya ke tempat tujuan melalui beberapa saluran, di mana pesan telah diterima dan diterjemahkan.

Namun mengambil aspek-aspek sosiologis yang terlibat dalam komunikasi menjadi pertimbangan, Schramm menunjukkan bahwa untuk memahami berlangsung antara sumber dan tujuan, mereka harus memiliki sesuatu yang sama.

Jika sumber dan tujuan bidang tentang pengalaman tumpang tindih, komunikasi dapat terjadi, jika tidak ada tumpang tindih, atau hanya sebuah area kecil yang sama, komunikasi sulit, jika tidak mustahil.

Selama bertahun-tahun penyuluh koperasi jasa yang dikembangkan keterampilan yang cukup besar dalam berkomunikasi dengan kelas menengah yang besar di Amerika. Keberhasilan itu dapat dimengerti. Sejumlah besar penyuluh berasal dari kelas menengah, dan ada banyak  tumpang tindih antara komunikator penyuluhan dan penonton kelas menengah.

Namun, di tahun 1960-an, masa menumbuhkan kesadaran sosial, penyuluh banyak yang menantang bahkan diwajibkan untuk bekerja dengan khalayak yang "kurang beruntung". Banyak penyuluh kelas menengah sulit untuk berkomunikasi dengan penonton yang kurang beruntung. Dalam banyak kasus, hanya ada kecil tumpang tindih dalam bidang pengalaman sumber dan penerima yang kurang beruntung.

Perpanjangan bertemu tantangan komunikasi untuk gelar dengan menggunakan individu dari target audiens yang kurang beruntung, melatih mereka, dan pada gilirannya memungkinkan mereka untuk menyediakan hubungan komunikasi penting. Karyawan diberikan judul seperti pembantu pemimpin, asisten gizi, para profesional yang membantunya dan nama-nama lainnya.

Untuk berpikir berakhir, mari kita kembali lagi ke ide bahwa komunikasi yang sukses tergantung pada penerima. Sebagai sumber komunikasi, kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan pesan dan memilih saluran media , tetapi jika penerima tidak mendapatkan pesan, maka komunikasi tidak sukses dikomunikasikan.

Contoh model Schramm tumpang tindih :

Seorang mahasiswa jurusan komunikasi dari universitas STIKOM  bertemu dengan seorang mahasiswa jurusan komunikasi  dari universitas yang berbeda disitu terjadilah komunikasi,  dengan sukses  karena  memiliki pengalaman yang sama akan lebih mudah untuk berkomunikasi.

Schramm membuat serangkai model komunikasi, dimulai dengan model komunikasi manusia yang sederhana (1954), lalu model yang lebih rumit yang memperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga ke model komunikasi yang dianggap interaksi dua individu.

Model yang pertama mirip dengan model Shannon dan Weaver. Dalam modelnya yang kedua, Schramm memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman sumber dan sasaran-lah yang sebenarnya dikomunikasikan, karena bagian sinyal itulah yang dianut sama oleh sumber dan sasaran. Model ketiga, Schramm menganggap komunikasi sebagai interaksi dengan kedua pihak yang menyandi, menafsirkan, menyendi-balik, mentransmisikan dan menerima sinyal.

Di sini kita melihat umpan balik dan ”lingkaran” yang berkelanjutan untuk berbagi informasi. Pada model ketiga ini, Schramm bekerjasama dengan Osgood sehingga dikenal sebagai model sirkular Osgood dan Schramm (The Osgood and Schramm Circular Model). Jika model Shannon dan Weaver merupakan proses yang linear, model ini dinilai sebagai sirkular dalam derajat yang tinggi. Perbedaan lainnya ialah apabila Shannon dan Weaver menitikberatkan perhatiannya langsung kepada saluran yang menghubungkan pengirim (sender) dan penerima (receiver) atau dengan kata lain, komunikator dan komunikan. Schramm dan Osgood menitikberatkan pembahasannya pada perilaku pelaku-pelaku utama dalam proses komunikasi. Shannon dan Weaver membedakan source dengan transmitter dan antara receiver dengan distination. Dengan kata lain, dua fungsi dipenuhi pada sisi pengiriman (transmitting) dan pada sisi penerimaan (receiving) dari proses. Pada Schramm dan Osgood ditunjukkan fungsinya yang hampir sama. Digambarkan dua pihak berperilaku sama, yaitu encoding (menyandi), decoding (menyandi-balik) dan interpreting (menafsirkan).

DI BAWAH INI MERUPAKAN GAMBAR DARI MODEL SCHARMM :

Model Pertama Schramm


Model ini merupakan pengembangan dari model Shannon-Weaver.
Schramm menekankan komunikasi sebagai proses yang memiliki tujuan untuk membangun kesamaan antara sumber dan penerima pesan.
Model Kedua Schramm


Pada model kedua ini Schramm memperkenalkan konsep baru komunikasi, field experience. Field experience ini merajuk pada kesamaan latar belakang dan pengalaman (seperti kesamaan bahasa dan kultur) antara pengirim dan penerima pesan. Bila kedua lingkaran memiliki wilayah bersama yang besar, maka komunikasi mudah dilakukan.
Model Ketiga Schramm


Kelebihan dari Model Schramm
§  Memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman sumber dan sasaranlah yang sebenarnya dikomunikasikan, karena bagi sinyal itulah yang dianut sama oleh sumber dan sasaran.
§  Menganggap komunikasi sebagai informasi dengan kedua pihak yang menyandih, menafsirkan, menyadi-balik, mentransmisikan, dan menerima sinyal.
§  Model ini memiliki unsur “field of experience” yang tidak dimiliki oleh model lain.

Kekurangan dari Model Schramm
§  Di dalam setiap konsep model yang ia buat, selalu menunjukkan perubahan dan perkembangan yang relevan terhadap fenomena yang terjadi dalam masyarakat.